Dunia yang diciptakan Jack Dorsey, penemu Twitter.com, adalah sebuah negeri yang remeh, sebenarnya. Lelaki jebolan New York University itu hanya menciptakan sistem yang bisa mengirimkan pesan pendek di Internet. Panjang pesan yang bisa dikirim juga cuma 140 karakter--kalah dengan SMS, yang menampung 160 karakter. Pesan itu juga hanya dikirim ke jaringan teman yang sudah terdaftar di Internet.
Untuk Anda yang berusia di atas 25 tahun dan jarang bermain di ranah blog, Twitter ini semacam Blogger mini atau micro-blogging tempat curahan hati lewat Internet atau ponsel
Isinya? Kerap kali cuma keluhan atau unek-unek yang tak tersampaikan. Contohnya: "Bete nih, habis dimarahi bos.", atau "Nasi goreng lagi, nasi goreng lagi, the worst junk food in the world!", atau "Bobok bersama Roxette.".
Apa yang bisa dilakukan dengan pesan semini itu? "Itu bisa menjadi pabrik uang," begitulah kata Dorsey
Benar, sejak 2006, Twitter membangun kerajaan bisnisnya dengan pesan mini itu. Dorsey, atau juga jutaan anak muda Amerika Serikat lainnya, punya mimpi yang sama: suatu hari mereka ingin seperti Bill Gates (pendiri Microsoft) atau Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), yang, walau DO (drop out) dari kampus, tapi kaya raya.
Untuk mewujudkan impiannya, Dorsey menggandeng Evan William. Anak muda penemu Blogger ini kaya raya karena menjual "mainannya" itu ke Google. Dalam tempo dua tahun, Twitter si mini ini telah menjadi salah satu perusahaan Internet baru yang paling panas bisnisnya. Penggunanya sudah mencapai tiga juta lebih.
Kalangan bisnis juga tak bisa memandang remeh perusahaan yang kini menjadi alat pemasaran wajib di era Web 2.0. Lihat saja, CNN pun menampilkan berita terbarunya lewat Twitter. Beberapa perusahaan lainnya, seperti maskapai penerbangan JetBlue, Cisco, mengirimkan kabar kepada pelanggannya juga lewat pesan mini. Dalam satu hari, bertebaran pesan-pesan sponsor itu ke jutaan komputer dan ponsel. Bahkan Barack Obama--nama Tweeternya "BarackObama"--pun memanfaatkan kampanyenya lewat situs ini. Di Twittersphere--ranah pencinta Twitter--Obama punya 51.620 pendukung.
Bahkan situs ini menjadi penyebar kabar-kabar penting, seperti "kebakaran hebat meluas" atau "Hillary menyerah", dari satu anggota Twitter ke anggota lainnya. Twitter menggemakan kabar itu ke seluruh penjuru.
Demam Twitter, Facebook, Ding, I Like, dan banyak situs jejaring sosial lainnya kini memang sedang "meledak" di mana-mana, tak terkecuali di negeri ini. Orang kini sadar tak bisa lagi mengabaikan era web 2.0, yang berbeda dengan era web konvensional, karena melibatkan suara aktif dari pelanggan atau audiens.
Sejak era web 2.0 hadir, situs web tak lagi seperti khotbah monolog. Pembaca bisa memberi tanggapan, mengomentari, menyebarluaskan, dan membesar-besarkan. Dunia web pun kini jauh lebih berwarna. Cerita atau berita bisa bersumber dari unek-unek kecil seperti apakah Obama sedang makan Dunkin' Donuts atau Burger King atau dia sedang terbang ke Ohio dengan mendengarkan lagu Bob Dylan atau Alicia Keys.
Web tak cuma berisi tulisan-tulisan formal yang beku, seperti "Amerika menginvasi Irak", tapi juga cerita unik dari teman atau tokoh idola yang berkelindan di ranah maya.
0 komentar:
Posting Komentar